Oleh Albertus Muda Atun | Guru SMAN 2 Nubatukan dan Sosialisator Program Literasi Nasional
Saya adalah sosialisator program literasi nasional. Setelah berjalan dari sekolah ke sekolah sambil mengajak sekolah-sekolah melalui Kepala Sekolah, para guru dan siswa untuk menulis ternyata tidak banyak peminat yang saya jumpai di sana. Banyak yang masih merasa gamang. Memulai dari mana atau dengan kalimat apa memulainya. Kalau pun ada guru yang punya kemampuan menulis baik, hanya saja belum banyak yang mau menularkan ilmu menulisnya kepada rekan sejawat untuk mewujudkan potensi menulisnya. Dari sana saya menemukan bahwa satu-satunya jalan keluar adalah mendorong, terus memotivasi untuk membaca. Gagasan-gagasan penting yang ditemukan saat membaca hendaknya dicatat agar memudahkan guru dan siswa melihat kembali gagasan tambahan yang telah dicatatnya pada saat menggarap sebuah tulisan. Pelatihan menulis saya tularkan, baik di kesempatan MPLS maupun pada saat MGMP.
Kesulitannya adalah adanya keengganan dari bapak/ibu guru untuk memulai. Padahal sejatinya guru dan kepala sekolah adalah seorang pembaca dan penulis. Sementara itu, tantangan di ranah siswa adalah belum terbukanya kepala sekolah menyambut program-program seperti gerakan menulis buku. Padahal program-program ini sangat membantu para siswa untuk mengembangkan potensi menulisnya. Kesulitan lain adalah pemerintah daerah melalui Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota juga Provinsi, belum memahami program secara komprehensif tentang program Gerakan Sekolah Menulis Buku Nasional (GSMB Nasional) sehingga mereka sulit menyambut para sosialisator melakukan sosialisasi secara masif, sistematis dan terstruktur.
Strategi yang saya lakukan adalah terus menghasilkan karya-karya dalam bentuk fiksi (puisi) maupun non fiksi (opini) untuk selanjutnya dipublikasikan di media online maupun media cetak. Selain itu, saya tetap mengajak para kepala sekolah, guru dan siswa untuk menulis baik melalui media sosial maupun melalui tatap muka langsung. Banyak Kepala Sekolah, guru dan siswa mengapresiasi setiap proses yang saya lakukan. Hanya saja mereka belum mau belajar sepenuhnya dari proses yang lalui meski awalnya sulit tetapi akhirnya begitu mudah dan menyenangkan. Banyak pula yang meminta kesediaan saya mengoreksi atau mengurasi tulisan-tulisan yang mereka buat. Saya melakukan itu dengan satu harapan bahwa mereka bisa belajar dari apa yang telah dimulai rekan sejawat. Banyak guru dan kepala sekolah masih tersandera budaya tutur juga kecenderungan beretorika yang sebetulnya mudah terlupakan.
Pada tahun 2021 yang lalu, saya ikut berkompetisi dalam program Sosialisator Program Literasi Nasional (SPL Nasional). Saya berhasil meraih peringkat ketiga nasional. Saya tidak pernah menduga bahwa hasil kerja keras saya mendatangi sekolah-sekolah dan memotivasi para guru dan siswa menulis sambil mengajak sekolah-sekolah membukukan karya ternyata mendapat sambutan yang sangat positif sehingga ada 40 sekolah yang terlibat langsung dalam program gerakan sekolah menulis buku. Para guru dan siswa menghasilkan banyak karya dalam bentuk puisi, cerpen dan esai juga opini. Dari sana saya merefleksikan bahwa perlu ada semakin banyak orang yang menjadi tutor sebaya, tenaga pelatih, pembimbing untuk mendampingi semakin banyak siswa dan guru agar bisa menulis sambil terus memacu diri untuk membaca.
Keberhasilan gerakan literasi di sekolah ada di tangan Tim Literasi Sekolah (TLS). Oleh karenanya, Kepala Sekokah mesti membuka diri mendukung Tim Literasi Sekolah melalui alokasi anggaran dari dana BOS agar keberadaan gerakan literasi di sekolah tidak mati suri tetapi semakin maju dan berkembang agar para siswa dan guru menemukan performa terbaiknya untuk berkarya melalui menulis yang baik.
Bagi saya ada dua pendekatan yang harus dilakukan dalam membumikan Gerakan Literasi. Pertama, habituasi atau pembiasaan-pembiasaan. Kedua, intervensi kebijakan mulai dari kepala sekolah, para kepala desa, lurah dan camat, semua kepala dinas, DPRD dan Bupati serta Wakil Bupati. Demikian juga di tingkat provinsi. Sebab bagi saya literasi bukan sebatas konsep atau ortodoksi (ajaran) tetapi terlebih dan terutama soal ortopraksisnya atau perwujudan langsung di lapangan. Salam Literasi menuju bangsa hebat.
Salam literasi. Terima kasih