Di sela-sela kesibukan mengembangkan model pembelajaran kolaboratif, di SMP Gita Bangsa Tangerang, saya tiba-tiba teringat pada satu istilah orang Lamaholot yaitu gemohin. Meski kurang mengikuti, perkembangan sistem pendidikan yang diterapkan di Kabupaten Flores Timur, namun insting primordial mengingatkan saya, bahwa secara sosiokultural, Flores Timur sebetulnya, punya banyak kekayaan dan tradisi yang harus terus-menerus digali dan dilestarikan. Sayangnya, kekayaan warisan leluhur Lamoholot itu, terkikis dari generasi ke generasi. Kekayaan-kekayaan itu hendaknya dilestarikan secara sistematis, dalam sebuah sistem pedidikan yang kontesktual.
Gemohin bukan sekedar istilah. Gemohin merupakan sebuah falsafah hidup orang Lamaholot. Jika hanya sekedar sebagai sebuah istilah, gemohin sesewaktu bisa saja hilang pada masa generasi tertentu. Bahkan tidak akan dipertahankan karena dianggap bukan merupakan kekayaan budaya atau kearifan lokal yang perlu dipertahankan. Padahal ‘gemohin’ sejatinya sebuah falsafah hidup masyarakat Lamaholot.
Gemohin menjadi sebuah falsafah hidup Lamaholot, karena ia telah membentuk sosiokultural orang Lamaholot. Gemohin adalah kolaborasi yang menghendaki kerjasama secara bergilir demi mencapai tujuan yang sama. Kita tahu, pada awalnya gemohin hanya bergerak di bidang pertanian. Orang-orang secara bergilir mengerjakan ladang/sawah secara bersama-sama. Di sana, karakter masyarakat terbentuk, mereka saling melayani, membantu dengan tidak membeda-bedakan, bahkan bekerja bersama untuk saling mensejahterakan.
Gemohin sebagai sebuah bentuk kolaborasi, mestinya diintegrasikan ke dalam ranah pendidikan. Sebab, sebuah pendidikan yang baik akan mengubah pola pikir yang baik dan cara hidup yang baik pula menuju kesejahteraan. Begitu pun, sistem pendidikan yang baik menghendaki, kebijakan-kebijakan yang kontekstual. Sayangnya, perubahan teknologi secara cepat telah mengubah banyak tatanan hidup pada perubahan yang radikal.
Richard Sennet dalam bukunya The Culture of the New Capitalisme (2006) mengatakan, banyak orang dilindas oleh perubahan pengetahuan dan teknologi yang sangat cepat yang kita kenal sebagai era disrupsi, sehingga keterampilan-keterampilan dan kecakapan hidup menjadi pudar. Dan sangat boleh jadi, dalam konteks Lamaholot, keterampilan, kecakapan hidup, tradisi, bahkan gemohin sendiri, perlahan dilindas oleh perubahan teknologi yang begitu cepat.
Sadar atau tidak, perubahan teknologi telah merasuk masuk pada perubahan sikap yang mengarah pada individualism. Sikap ini, perlahan membentuk jalan perubahan baru orang Lamaholot. Salah satu penanda adalah gaya hidup individualistis. Gaya hidup ini, terlihat dari cara kerja dan sistem kerja yang mau berjuang sendiri untuk mencapai tujuan pribadi. Sebagai contoh, di bidang politik, orang yang sudah punya kekuasaan akan terus mempertahankan kekuasaan dan menutup pintu rapat-rapat terhadap orang luar, karena akan dianggap sebagai pesaing.
Ketika menemukan adanya kritikan terhadap gaya kempimpinan yang sedang diemban, orang akan merespon secara emosional bukan rasional. Cara sederhana untuk mengecek adalah menganalisis narasi-narasi terhadap fakta-fakat yang disampaikan. Jika tidak, mereka akan mengabaikan data-data yang telah dikaji para peneliti. Di bidang Pendidikan, boleh jadi muncul organisisasi baru yang akan terlihat berjalan sendiri-sendiri. Survival of the fittest, orang yang kuat akan bertahan melanggengkan kekuasaan sementara yang lain hanya bisa mengkiritik.
Sudah saatnya masyarakat Lamaholot memilih pemimpin yang menguasai Coding Literacy (Literasi Koding). Dengan kata lain, pemimpin yang mampu membuat program atau aplikasi kegiatan komunikasi dengan sistem perangkat komputer (Haryatmoko, 2020:9). Kemampuan literasi koding ini, akan berdampak pada implementasi manajemen birokrasi yang transparan, akuntabel dan kolaboratif. Dengan kata lain, diperlukan adanya digitalisasi kelembagaan.
Setiap pemimpin mesti berperan sebagai pengontrol sehingga tidak serta merta membuat kesimpulan hanya berdasarkan narasi fakta-fakta. Namun, lebih dari itu, pada data-data yang dibangun dalam sebuah ekosistem digital birokrasi. Ketergesahan cenderung menyederhanakan pemecahan persoalan. Sudah saatnya merevitalisasi falsafah gemohin dalam hidup orang Lamaholot.
Upaya tersebut tentu tidaklah mudah, seperti membalikkan telapak tangan. Sebab seorang pemimpin harus mengubah pola pikir dengan mengedepankan kolaborasi semua sektor atau bidang. Pemimpin harus berani membuka ruang jejaring atau keterhubungan. Tanpa upaya kolaborasi (baca: gemohin) inovasi dan kreativitas, gemohin hanyalah sebuah slogan belaka.
Maka, sektor pertama dan utama yang menjadi sasaran adalah sektor pendidikan. Flores Timur harus berani mengubah wajah pendidikan yang birokraktif menjadi wajah kolaboratif. Sistem pendidikan yang administratif manual, mesti menjadi ekosistem digital, yang membuat ragam porto folio peserta didik. Gemohin mempunyai filosofis yang sangat tinggi untuk mengubah Lamaholot menuju daerah yang kompetitif dan berdaya saing global. Para pemangku pendidikan, sebaiknya berkolaborasi menyiapkan dan membedah kurikulum yang kontekstual selaras roh gemohin.
Masyarakat Lamaholot kaya akan generasi-generasi hebat. Masyarakat Lamaholot juga memiliki tradisi-tradisi atau kekayaan daerah yang bernilai tinggi. Dengan demikian, sektor pendidikan mesti menjadi lokus dan fokus perubahan. Bukan zamannya lagi kita menghabiskan waktu dengan sistem administrasi manual yang kaku. Konsep membangun inovasi dan kreativitas, mesti benar-benar bermain peran. Teknologi akan sangat membantu, kerja yang efektif dan efisien lintas sektor secara kolaboratif. Melalui kolaborasi, kreativitas dan inovasi akan muncul dengan sendirinya. (***) Yulius Maran_Praktisi Pendidikan
Tulisan pernah dimuat di www.nusalontar.com
ᴍᴀᴋɴᴀ ꜱᴇʙᴜᴀʜ ᴘᴇʀᴜʙᴀʜᴀɴ: ʙᴇʀᴛᴏʟᴀᴋ ᴋᴇ ᴛᴇᴍᴘᴀᴛ ʏᴀɴɢ ᴅᴀʟᴀᴍ
𝙷𝚒𝚍𝚞𝚙 𝚊𝚔𝚊𝚗 𝚋𝚎𝚐𝚒𝚝𝚞 𝚋𝚎𝚛𝚊𝚛𝚝𝚒 𝚜𝚎𝚌𝚊𝚛𝚊 𝚜𝚒𝚐𝚗𝚒𝚏𝚒𝚔𝚊𝚗 𝚓𝚒𝚔𝚊 𝚊𝚍𝚊 𝚊𝚛𝚊𝚑/𝚝𝚞𝚓𝚞𝚊𝚗. 𝙷𝚒𝚍𝚞𝚙 𝚝𝚊𝚗𝚙𝚊 𝚝𝚞𝚓𝚞𝚊𝚗 𝚒𝚋𝚊𝚛𝚊𝚝 𝚝𝚎𝚛𝚔𝚞𝚗𝚔𝚞𝚗𝚐 𝚍𝚊𝚕𝚊𝚖 𝚕𝚒𝚗𝚐𝚔𝚊𝚛𝚊𝚗 𝚛𝚞𝚝𝚒𝚗𝚒𝚝𝚊𝚜 𝚢𝚊𝚗𝚐 𝚖𝚘𝚗𝚘𝚝𝚘𝚗.𝚃𝚞𝚓𝚞𝚊𝚗 𝚊𝚍𝚊𝚕𝚊𝚑 𝚔𝚞𝚊𝚕𝚒𝚝𝚊𝚜 𝚢𝚊𝚗𝚐 𝚞𝚗𝚒𝚔 𝚋𝚊𝚐𝚒 𝚜𝚎𝚝𝚒𝚊𝚙 𝚘𝚛𝚊𝚗𝚐. 𝙺𝚎𝚗𝚝 𝙱𝚊𝚛𝚗𝚎𝚣 𝙹𝚁 𝚍𝚊𝚕𝚊𝚖 𝚋𝚞𝚔𝚞𝚗𝚢𝚊 “𝚃𝚑𝚎 𝙲𝚊𝚕𝚕 𝚝𝚘 𝙲𝚑𝚊𝚗𝚐𝚎: 𝙰 𝙿𝚛𝚊𝚌𝚝𝚒𝚌𝚊𝚕 𝙶𝚞𝚒𝚍𝚎 𝚝𝚘 𝙳𝚎𝚖𝚘𝚗𝚜𝚝𝚛𝚊𝚝𝚒𝚗𝚐 𝚝𝚑𝚎 𝟽 𝙴𝚜𝚜𝚎𝚗𝚝𝚒𝚊𝚕 𝚀𝚞𝚊𝚕𝚒𝚝𝚒𝚎𝚜 𝚘𝚏 𝚃𝚛𝚊𝚗𝚜𝚒𝚝𝚒𝚘𝚗𝚊𝚕 𝚃𝚛𝚊𝚗𝚜𝚏𝚘𝚛𝚖𝚊𝚝𝚒𝚘𝚗” 𝚖𝚎𝚗𝚐𝚊𝚝𝚊𝚔𝚊𝚗 𝚋𝚊𝚑𝚠𝚊 𝚃𝚞𝚓𝚞𝚊𝚗 𝚒𝚝𝚞 𝚋𝚞𝚔𝚊𝚗 𝚜𝚘𝚊𝚕 𝚊𝚙𝚊 𝚢𝚊𝚗𝚐 𝚔𝚒𝚝𝚊 𝚕𝚊𝚔𝚞𝚔𝚊𝚗 𝚙𝚊𝚍𝚊 𝚖𝚊𝚜𝚊 𝚕𝚊𝚕𝚞, 𝚗𝚊𝚖𝚞𝚗 𝚜𝚎𝚐𝚊𝚕𝚊 𝚜𝚎𝚜𝚞𝚊𝚝𝚞 𝚢𝚊𝚗𝚐 𝚔𝚒𝚝𝚊 𝚕𝚊𝚔𝚞𝚔𝚊𝚗 𝚞𝚗𝚝𝚞𝚔 𝚑𝚊𝚛𝚒 𝚎𝚜𝚘𝚔. (𝙿𝚞𝚛𝚙𝚘𝚜𝚎 𝚒𝚜 𝚗𝚘𝚝 𝚠𝚑𝚊𝚝 𝚢𝚘𝚞 𝚙𝚛𝚊𝚌𝚝𝚒𝚌𝚎𝚍 𝚒𝚗 𝚢𝚘𝚞𝚛 𝚙𝚊𝚜𝚝, 𝚋𝚞𝚝 𝚒𝚝 𝚍𝚎𝚊𝚕𝚜 𝚠𝚒𝚝𝚑 𝚠𝚑𝚊𝚝 𝚢𝚘𝚞 𝚙𝚛𝚎𝚙𝚊𝚛𝚎 𝚢𝚘𝚞𝚛𝚜𝚎𝚕𝚏 𝚝𝚘 𝚍𝚘 𝚗𝚎𝚡𝚝). 𝙺𝚊𝚛𝚎𝚗𝚊 𝚊𝚛𝚊𝚑 𝚊𝚝𝚊𝚞 𝚏𝚘𝚔𝚞𝚜 𝚊𝚍𝚊𝚕𝚊𝚑 𝚝𝚞𝚗𝚝𝚞𝚝𝚊𝚗 𝚜𝚎𝚋𝚞𝚊𝚑 𝚙𝚎𝚛𝚞𝚋𝚊𝚑𝚊𝚗.
𝙻𝚎𝚋𝚒𝚑 𝚕𝚊𝚗𝚓𝚞𝚝 𝙺𝚎𝚗𝚝 𝙱𝚊𝚛𝚗𝚎𝚜 𝚖𝚎𝚖𝚋𝚎𝚛𝚒 𝚒𝚗𝚜𝚙𝚒𝚛𝚊𝚜𝚒 𝚢𝚊𝚗𝚐 𝚍𝚊𝚕𝚊𝚖 𝚝𝚎𝚗𝚝𝚊𝚗𝚐 𝚖𝚊𝚔𝚗𝚊 𝚍𝚊𝚛𝚒 𝚛𝚎𝚏𝚕𝚎𝚔𝚜𝚒 𝚜𝚙𝚒𝚛𝚒𝚝𝚞𝚊𝚕. 𝚂𝚎𝚐𝚊𝚕𝚊 𝚖𝚊𝚌𝚊𝚖 𝚍𝚒𝚜𝚒𝚙𝚕𝚒𝚗 𝚒𝚕𝚖𝚞 𝚖𝚎𝚖𝚋𝚊𝚗𝚝𝚞 𝚔𝚒𝚝𝚊 𝚞𝚗𝚝𝚞𝚔 𝚖𝚎𝚖𝚙𝚎𝚛𝚜𝚒𝚊𝚙𝚔𝚊𝚗 𝚍𝚒𝚛𝚒 𝚕𝚎𝚋𝚒𝚑 𝚋𝚊𝚒𝚔 𝚖𝚎𝚗𝚐𝚑𝚊𝚍𝚊𝚙𝚒 𝚑𝚊𝚛𝚒 𝚎𝚜𝚘𝚔. 𝙽𝚊𝚖𝚞𝚗, 𝚔𝚒𝚝𝚊 𝚍𝚒𝚑𝚊𝚛𝚊𝚙𝚔𝚊𝚗 𝚝𝚒𝚍𝚊𝚔 𝚕𝚞𝚙𝚊 𝚊𝚔𝚊𝚗 𝚜𝚞𝚖𝚋𝚎𝚛 𝚑𝚒𝚍𝚞𝚙, 𝚜𝚞𝚖𝚋𝚎𝚛 𝚔𝚎𝚔𝚞𝚊𝚝𝚊𝚗, 𝚜𝚞𝚖𝚋𝚎𝚛 𝚜𝚎𝚐𝚊𝚕𝚊 𝚢𝚊𝚗𝚐 𝚔𝚒𝚝𝚊 𝚖𝚒𝚕𝚒𝚔𝚒 𝚝𝚎𝚛𝚔𝚑𝚞𝚜𝚞𝚜 𝚖𝚒𝚗𝚊𝚝, 𝚋𝚊𝚔𝚊𝚝 𝚍𝚊𝚗 𝚙𝚘𝚝𝚎𝚗𝚜𝚒 𝚔𝚒𝚝𝚊 𝚜𝚎𝚋𝚊𝚐𝚊𝚒 𝚖𝚊𝚗𝚞𝚜𝚒𝚊. 𝙼𝚊𝚔𝚊, 𝚜𝚎𝚋𝚎𝚕𝚞𝚖 𝚋𝚎𝚛𝚝𝚘𝚕𝚊𝚔 𝚔𝚎 𝚝𝚎𝚖𝚙𝚊𝚝 𝚢𝚊𝚗𝚐 𝚍𝚊𝚕𝚊𝚖 𝚞𝚗𝚝𝚞𝚔 𝚜𝚎𝚋𝚞𝚊𝚑 𝚙𝚎𝚛𝚞𝚋𝚊𝚑𝚊𝚗, 𝚙𝚊𝚜𝚝𝚒𝚔𝚊𝚗 𝚋𝚊𝚑𝚠𝚊 𝚔𝚒𝚝𝚊 𝚝𝚎𝚛𝚔𝚘𝚗𝚎𝚔𝚜𝚒 𝚍𝚎𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚜𝚞𝚖𝚋𝚎𝚛 𝚔𝚎𝚔𝚞𝚊𝚝𝚊𝚗 𝚔𝚒𝚝𝚊. 𝙺𝚒𝚝𝚊 𝚙𝚎𝚛𝚕𝚞 𝚖𝚎𝚛𝚎𝚏𝚕𝚎𝚔𝚜𝚒𝚔𝚊𝚗 𝚔𝚎𝚜𝚎𝚓𝚊𝚝𝚒𝚊𝚗 𝚍𝚒𝚛𝚒 𝚔𝚒𝚝𝚊 𝚋𝚎𝚛𝚍𝚊𝚜𝚊𝚛𝚔𝚊𝚗 𝚙𝚛𝚒𝚗𝚜𝚒𝚙-𝚙𝚛𝚒𝚗𝚜𝚒𝚙 𝚎𝚜𝚎𝚗𝚜𝚒𝚊𝚕 𝚋𝚒𝚋𝚕𝚒𝚜 𝚢𝚊𝚗𝚐 𝚖𝚎𝚖𝚊𝚗𝚐𝚐𝚒𝚕 𝚔𝚒𝚝𝚊 𝚞𝚗𝚝𝚞𝚔 𝚋𝚎𝚛𝚞𝚋𝚊𝚑. 𝚂𝚎𝚖𝚘𝚐𝚊 𝚊𝚙𝚊 𝚙𝚞𝚗 𝚢𝚊𝚗𝚐 𝚔𝚒𝚝𝚊 𝚕𝚊𝚔𝚞𝚔𝚊𝚗 𝚖𝚎𝚗𝚒𝚖𝚋𝚊 𝚜𝚞𝚖𝚋𝚎𝚛 𝚍𝚊𝚛𝚒 𝚢𝚊𝚗𝚐 𝙰𝚋𝚊𝚍𝚒 𝚍𝚊𝚗 𝚖𝚎𝚗𝚐𝚊𝚛𝚊𝚑 𝚙𝚊𝚍𝚊 𝚔𝚎𝚋𝚊𝚑𝚊𝚐𝚒𝚊𝚗 ( 𝚔𝚎𝚜𝚎𝚖𝚙𝚞𝚛𝚗𝚊𝚗) 𝚢𝚊𝚗𝚐 𝚜𝚎𝚓𝚊𝚝𝚒.
ASIKNYA UMPAN BALIK DUA ARAH
Ibu/Bapak Guru di sekolah tentu sudah tak asing dengan istilah umpan balik ( feedback). Di dalam Kurikulum Merdeka, umpan balik menjadi salah satu komponen penting dalam proses belajar mengajar agar tercapai tujuan secara maksimal. Umpan balik adalah sebuah komunikasi yang efektif dalam proses mencapai tujuan. Sebagai Komunikasi yang efektif, umpan balik menghendaki peran aktif dari dua pihak, bukan satu pihak. Misalnya hanya guru yang memberi umpan balik kepada proses-proses yang dilakukan peserta didik, atau sebaliknya hanya peserta didik yang memberi umpan balik kepada guru terhadap pengajarannya.
Umpan balik yang asyik itu dilakukan secara kolaboratif dua arah. Secara profesional guru mestinya secara berkala menerima umpan dari peserta didik agar pengajaran semakin berdampak bagi peserta didik dan sebaliknya seorang guru selalu memberi umpan balik secara spesifik dan jelas kepada para peserta didik agar mereka bisa belajar dari proses yang dilakukan. Grant Wiggins memberikan pencerahan terakhir 7 cara efektif dalam memberikan umpan balik. Tujuh cara itu antara lain:
Untuk lebih detail bisa dibaca lebih lanjut di sini: https://www.ascd.org/el/articles/seven-keys-to-effective-feedback